Kisah Amier Syakieb Arsyilan Murid Bung Karno dari Bukittinggi

Wednesday, 14 August 2019 : 07:54

Masa Kecil Amier Syakieb Arsyilan
Tidak ada kata malas dalam perjalanan hidupnya untuk belajar. Dari usia kanak-kanak, hingga berusia 90 tahun, Amier Syakieb Arsyilan murid pertama Presiden Suekarno dari Bukittinggi, Sumatera Barat yang masih lantang menyuarakan untuk membaca.

Putra Kelahiran, Timbulun, Muarolabuh, Solok Selatan pada 23 Oktober 1929 ini,  melanjutkan sekolah di Bukittinggi pada tahun 1937 di zaman pemerintah kolonial Belanda dan tamat SMA pada tahun 1953. Kemudian Amier berangkat ke Yogyakarta dan belajar dengan Bung Karno pada tahun 1954. Pada saat itu, Amier sudah berumur lebih dari 20 tahun dan sudah bergabung dengan Partai Nasional Indonesia.
Masa kecil Amier juga aktif menjadi tentara pelajar sektor wilayah tanah Datar, Sumatera Barat.

Belajar dengan Bung Karno
Saat belajar dengan Bung Karno, Ia sangat senang dan banyak mendapatkan ilmu seputar nasionalisme, bahkan Amier tidak menemukan sisi buruk dari Suekarno dan membenarkan semuanya hal yang manis.

Pada masa pendidikan bersama Bung Karno, ada banyak tokoh nasional  yang ikut belajar salahsatunya, Idham Cholid dari Nadhatul Ulama, Jendral
Nasution, Suddi Dio dari Partai Syerikat Islam Indonesia, Sirajudin Abbas dari Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan bayak tokoh lainnya  belajar dengan Bung Karno.


Meskipun belajar di tempat terbuka seperti di halaman Istana Bogor, tapi semangat belajar terpancar dari wajah Amier dan masih terkenang hingga saat ini. Amier juga pernah menjadi ketua PNI cabang Bukittinggi pada 1950.

Kepada saya diceritakan Amier, bahwa sosok Bung Karno seorang pemimpin idealis dan pemberani, pasca melaksanakan fokus discussion Peringatan Hari Kelahiran Bung Hatta ke 117 tahun di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta di Gulai Bancah. Wawancara saat itu juga ada Yenti, wartawati Singgalang dan reporter RRI Bukittinggi


Pulang Ke Bukittinggi
Pada 1977, Amier kembali ke Kota Bukittinggi dan mendirikan Perpustakaan Mohammad Hatta.

Sosok di balik mendirikan Perpustakaan Mohammad Hatta, tidak lepas dari tangan dingin Amier yang sebelumnya bernama Perpustakaan Umum Daerah Bukittinggi. Kemudian pada masa itu, terkendala anggaran pengelolaan. Amier pun, menghadap gubernur Sumatera Barat, Harun Zain dan gubernur mengusulkan nama perpustakaan umum tersebut diganti dengan nama Bung Hatta. Karena Bung Hatta adalah proklamator asal Bukittinggi.

Pada saat itu, Bung Hatta berada di Jakarta, kemudian gubernur Sumbar, Azwar Annas membiayai keberangkatan Amier ke Jakarta untuk bertemu Bung Hatta. Sampai di Jakarta, Amier bertemu dengan Wangsa Widjaya, sekretaris Bung Hatta. Amier langsung menyerahkan surat dari gubernur Sumbar tentang usulan pergantian nama perpustakaan umum daerah Bukittinggi  dengan nama Bung Hatta. Tak lama setelah itu, Bung Hatta langsung membalas surat kecil tersebut berbentuk memo yang berisi kesedian Bung Hatta menerima namanya dipakai pada perpustakaan di Bukittinggi menjadi perpustakaan Umum Mohammad Hatta.


Tepat pada 12 Agustus 1976 didirikanlah Perpustakaan Umum Mohammad Hatta yang terletak di Jln. A. Riva’i, tepatnya di sebelah Rumah Sakit Umum Daerah DR. Achmad Mochtar Kota Bukittinggi. Perpustakaan ini diresmikan oleh Bung Hatta sendiri yang merupakan putra Minangkabau sekaligus Pahlawan Proklamator Republik Indonesia yang di kelolah oleh Amier. 

Perpustakaan Umum Daerah Bukittinggi mulai berkembang, Amier mulai memangerial dengan baik, seperti mengajarkan pegawainya  bekerja dengan profesional dalam penyusunan buku.

Perkembangan Perpustakaan Umum Mohammad Hatta bisa di rasakan, paska berganti nama dengan UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, yang menyediakan ribuan buku seputar Bung Hatta.

Saat ini, jiwa nasionalisme tetap digaungkan oleh Amier yang sudah memiliki 13 orang dan cucu 30 orang dan tinggal di kawasan Pasar Atas Bukittinggi. Sementara itu, kondisi pak Amier masih dalam keadaan sehat walafiat dan  kuat menyetir mobil sendiri.

 
Silahkan Bagikan Berita Ini