Bercermin pada Dua Kali Gangguan Asap Ekstrim

Thursday, 17 October 2019 : 06:14

Setidaknya pada dua kali musim kemarau lima tahun terakhir,  kita mengalami gangguan asap yang hebat sampai-sampai negara tetangga Malaysia dan Singapurapun mengeluhkan transboundaryasap. Di negara kita malah dianggap menjadi kejadian yang biasa sekali pun pada gangguan asap ekstrim seperti tahun 2015 yang lalu dan 2019 barusan tak ayal sekolah pun harus diliburkan, mulai terasa menggangu pada penglihatan atau terasa pedih di mata, gangguan pernafasan pada beberapa orang yang sensitifpada kemampuan pernafasan dan sebagainya. Adanya asap dan kalau sudah se-ekstremdua tahun dimaksud kerugian pada sektor pertanian pun lumayan juga disebabkan fotosintesis yang berlangsungpada tanaman tak berlangsung secara normal lagi. 

Fotosintesis mutlak membutuhkan sinar matahari pada panjang gelombang tertentu agar prosesnya bisa berlangsung baik. Seperti diketahui mekanisme fotosintesis-lah yang menjamin pertumbuhan tanaman. Apabila proses pertumbuhan terganggu selama satu sampai dua bulan di mana asap akan menghalangi sinar matahari  langsung maka hampir  dipastikan akan terjadi penurunan produksi demikian diutarakan seorang pakar pertanian yang tak bersedia menyebutkan namanya.

                Bagaimana rupanya gangguan asap ekstrim 2015 dan 2019 itu? Bila kita cukup diberi oleh Yang Maha Kuasa sekedar mengingat fenomena asap di 2015 dan 2019 barusan, sangat mudah menyaksikan semua itu di layar Televisi, tayangan berita mewarnai berbagai liputan berbagaikesibukan yang amat sangat dari regu-regu pemadam api pada lahan-lahan yang sedang terbakar, para pejabat pemerintah yang berwenang tampak sangat galau, program hujan buatan hingga aktivitas pendayagunaan doa-doa serta usaha pawang  hujan pun dilakukan atau setidaknya semua upaya yang dianggap cerdas akan dilaksanakan oleh semua pengambil keputusan serta para pihak terkait (stake holder).

                Sumber asap hampir sama di dua kejadian gangguan asap ekstrim dimaksud, hampir semuanya berasal terutama dari aktivitas penyiapan lahan perkebunan. Salah satu ciri, agin bertiup umumnya timuran hingga tenggara yang dikenal tak terlalu banyak membawa uap air. Pada saat ini  hujan akan jarang turun, kelembaban rendah mengakibatkan rumput-rumput, serasah, ranting-ranting serta lapisan gambut yang memang ada area itu akan mudah sekali terbakar. Sedikit saja pemantiknya akan terjadilah kebakaran, entah itu dari korek api atau entah dari sumber apa pun saksikan aja akan segera direspon area yang memang sudah mengalami kekeringan pada saat kemarau itu. Beruntung kita memiliki akses terhadapimage satelit yang dipantau oleh LAPAN dan oleh BMKG setiap saat dapat memberikan titik-titik hotspotsyang apabila hotspots ini berlanjut terus dalam beberapa hari tak pelak akan berubah menjadi titik api yang kelak berpotensi menimbulkan asap secara sporadis.

                Bagi sebahagian orang kondisi kemarau seperti ini justru dijadikan peluang berusaha, menyiapkan lahan; semudah itu menjadikan lahan untuk siap dijadikan untuk kegiatan selanjutnya seperti mengolah tanah, penanaman atau aktivitas apalah kira-kira yang akan dilakukan selanjutnya. Bercermin pada dua kali kejadian asap ekstrim yang di maksud lokasi sumber asap masih di sekitar wilayah yang sama, demikian juga sebaran asapnya. Bisakah kita jadikan ini menjadi pelajaran? Bisa bangat.
Kejadian kemarau tahun 2015 bisa dijadikan menjadi pelajaran berharga dalam mengantisipasi kejadian serupa yang berpotensi berulang pada tahun-tahun berikutnya. Diakui, kita dengan sukses melewati kemarau 2016, 2017, 2018 dimanatak signifikan ada gangguan asap eksrim di tiga tahun itu. Tapi tunggu dulu salah satu penyebabnya adalah secara meteorologis tak terlalu mendukung terjadinya kebakaran hutan dan lahan akibat terjadinya hujan lebih sering atau mungkin juga tak ada niat melakukan pembakaran karena mungkin pada periode itu saja semakin timbul kesadaran mengingat peristiwa yang dulu, asumsi ini tersebut bisa diterima juga.

Deskripsi Sumber Asap

                Memetakan sumber titik hotspot atau titik api saat ini jauh lebih valid karena karena menggunakan teknologi satelit, validitasnya tak perlu lagi diragukan. Titik hotspot pada saat kemarau baik di tahun 2015 maupun 2019 dimulai Riau, Jambi demikian juga hingga Sumatera Selatan. Dan bahkan lebih mudah mengidentifikasi daerah ini merupakan daerah yang dikenali sebagailangganansumber asap pada saat tiba setiap musim kemarau.
                Dapat dikatakan adalah pekerjaan tergolong sangat mudah saat ini mengakses peta hotspotyang dirilis oleh instansi kredibel seperti BMKG, LAPAN, NOAA, GAW, Badan Lingkungan Hidup dan bahkan institusi lain yang interest dengan masalah seperti ini. Tak mestilah dengan PC membuka web, saat ini HP Anroid pun akan mudah sekali ketika signal ada siapapun anda akan dapat melihat peta-peta tematik  yang dapat memberi informasi real-time atau setidaknya yang kabar terbarulah (updated information) soal intensitas kemarau dan potensi perkembangan hotspot. Sekiranya hotspot dimaksud memiliki kecenderungan berubah menjadi titik api tentu menjadi mudah dimonitor. Ada sedikit upaya memainkan media komunikasi ini bisa sangat membantu membantu mengetahui perkembangan dari waktu ke waktu. Jangan lupa berkunjung ke situs BMKG Pusat atau Stasiun GAW Bukit Kototabang, disini akan diperoleh peta pergerakan massa udara streamlineyang dapat menunjukkan serta gambaran asap akan menyebar dari mana menuju kemana saja.

                Mengingukti perkembangan dari mana dan menuju ke mana saja, informasi ini bisa didapatkan secara observasi secara visual dan alat. Asap dalam jumlah sangat sedikit memang tak terlalu bisa dibedakan secara visual namun pada level seperti ini alat-alat umumnya sudah sangat menyebar terutama di Dinas-dinas Lingkungan Hidup di Kabupaten/Kota. Alat pengukur asap dan debu portabletersedia pada ukuran partikel2.5 dan 10mikrometerseperti alat EPAM 5000itu yang pada umumnya sudah dimiliki oleh beberapa instansi dimaksud. Pada tahap seperti ini sumber informasi perihal asap tentu semakin banyak serta bervariasi.

                Deskripsi sumber asap serta simulasi perkembangan penyebaran asap serta terpapar asap saat ini sudah dengan mudah dikenali maka dapat dikatakan bahwa setiap pengambil keputusan mau melakukan upaya apa pada tahap ini menjadi lebih konkretlagi karena didasari pada masukan cepat serta data yang terjamin validitasnya.


Informasi Dini sebagai Info Intelijen 

                Jelaslah bagi sebahagian pihak bilamana sudah terbiasa menggunakan tekonologi informasi di dalam membantu manajemen dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan maka mereka akan membayangkan kemudahan di dalam mengelola informasi gangguan asap ini dengan sangat bijak, maksudnya agar informasi yang validitasnya tak diragukan itu bisa segera dijadikan oleh siapa saja sebagai pengambil keputusan (decision maker) yang dalam hal ini yang dimaksud adalah pihak yang memiliki otoritas di dalam mengelola sumberdaya yang ada untuk dikerahkan pada saat yang tepat guna mendapatkan manfaat yang optimal semisal pengurangan dampak dari gangguan asap dimaksud.

                Informasi menurut sifatnya selain valid, bernilai tinggi disebabkan tepat waktu. Jelas ada lag waktu pada saat tranportasi asap dari sumber kebakaran hingga di daerah terdampak. Bila kebakaran hutan dan lahan secara intensif itu terjadi di Provinsi Jambi misalnya sementara pada waktu yang bersamaan arus angin yang melintasi kawasan ini bervariasi antara timuran hingga tenggara, dapat dipastikan beberapa provinsi tetangganya akan terdampak secara langsung. Pada observasi gangguan asap di kedua kejadian 2015 dan 2019 gejala ini persis seperti itu. Sumatera Barat misalnya dimulai dengan Kabupaten terdepan Dharmasraya dan Solok Selatan terekam dengan sangat signifikan terlebih dahulu mengalami gangguan asap. Secara perlahan dengan mengikuti pola penyebaran seperti ini kemudian secara perlahan mempengaruhi hampir seluruh Kabupaten/Kota di Sumatera Barat. Dan itu sebabnya respon Kabupaten/Kota pada kejadian gangguan asap yang lalu seperti bergerak secara estafet dimulai dari Dharmasraya, Solok, Limapuluh Kota, Padang Panjang, Padang, Bukit Tinggi, Agam dan berakhir di Pasaman Barat.Perpindahan asapsangat sporadis meliputi Sumatera, melintasi beberapa provinsibukan hanya Sumatera Barat,Sumatera Utara dan terakhir diberitakan hingga Daerah Istimewa Aceh.

                Pola seperti ini menjadi lebih memiliki makna di dalam manajemen penanggulangan bencana alam, mungkin oleh pihak BPBD, DLH, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan atau stake holder lainnya dan tanpa menunggu waktu dibayangi keragu-raguan apakah sesuatu otoritas akan berbuat apa semisal kapan sebaiknya pembagian masker hingga menghabiskan seluruh persediaan di Gudang, dapat menjadi diniali sebagai tindakan paling tepat. Kapan misalnya pemerintah Kabupaten/Kota mengambil kesimpulan meliburkan anak sekolah guna mengantisipasi serta agar jangan siswa-siwi yang umumnya pada siang hari beraktivitas di luar rumah dan sebagainya. Semuanya pengambilan keputusan di dalam setiap episode gangguan asap ini sesungguhnya tidaklah muncul secara tiba-tiba, ada tahapan-tahapannnya yang semuanya bisa dimonitor serta bisa dilakukan evaluasi tahap demi tahap.

                Dapat dikatakan bahwa langkah cerdas di dalam hal penanggulangan bencana gangguan asap seperti ini terletak pada stage pengelolaan informasi dengan benar. Tak berlebihan bila penulis menyebutkan bahwa jenis informasi seperti ini masuk di dalam kategori informasi intelijen. Informasi intelijen yang yang sifatnya valid, tepat waktu untuk digunakan sebagai dasar pengambilan tindakan penanggulangan. Sebagai informasi intelijen maka pihak yang menjadi sumber informasi pun mestilah diakui kapabilitasnya, selain itu jalur komunkikasi yang dipakai serta pihak mana yang dituju haruslah semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Berbeda dengan informasi lain sejenis yang sengaja diedarkan atau yang diperuntukkan bagikebutuhan publik. Informasi untuk publik ini hanya diperuntukkan untuk konsumsi publik dalam rangka mengurangi kepanikan serta antisipasi perilaku yang sifatnya secara individu.

                Sebagai contoh bisa saya sebutkan grafik yang menggambarkan dinamika PM10, yaitu partikel padat ukuran sangat kecil di udara seperti asap itu. Selama bulan September 2019 yang diukuralat BAM 1020 di GAW Bukit Kototabang,  dengan ketelitian yang sangat bisa dipertanggugnjawabkan dengan gambaran sebagai berikut ini. Penulis menyebutkan ada beberapa fase-fase yang satu fase intermittent (sesekali muncul), yaitu terdeksinya PM10 yang mulai cenderung mulai melonjak naik dari kategori baikkemudian beranjak menuju kategori sedangyaitu pada sekitar pertengahan bulan Agustus 2019. Bisa saja karena kesempatan kejadian kebakarannya masih amat kurang atau hujan masih kerap berlangsung di area sumber asap itu sebabnya disebut intermittent. Fase mulai gangguan asap, itu dimulai pada pertengahan bulan September 2019 dan terakhir berada pada Fase puncak gangguan asap, yaitu tanggal 23 September 2019

Ketiga fase yang disebutkan sudah melintasi hampir semua kategori yang dimulai setiap hari biasanya terukur baik di GAW Kototabang menuju sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat dan puncaknya itu lho : berbahaya bagi kesehatan! Atau di dalam grafik 482mikro gram per meter kubik berlangsung pada pukul 10.00 WIB. Bagi penulis sendiri hasil pengukuran tertinggi seperti ini adalah monumental dan mengakibatkan penulis semakintermotivasi, berjanji kepada diri sendiri akan giat di dalam semua aktivitas yang berhubungan dengan penanggulangan bencana alam sekali pun hanya secara sukarela.
Penutup

Ketika kita memiliki banyak informasi satu keterampilan yang dibutuhkan adalah tentu memilah-milah informasi itu mana yang perlu dan mana yang  kurang perlu atau bahkan informasi yang perlu diabaikan sama sekali. Informasi potensi asap menurut penulis masuk dalam kategori informasi intelijen, yang sangat penting diteruskan kepada pengambil keputusan. Bila digunakan secara tepat dan penuh tanggungjawab dapat dibayangkan akan membawa dampak yang luas bagi keselamatan masyarakat. Informasi ini sangat berguna bila validitasnya tinggi dan tepat waktu. Bercermin pada dua kali gangguan asap ekstrim pada tahun 2015 dan 2019 semoga artikel ini menjadi sumber inspirasibagi stake holder penanggulangan bencana dan juga terutama bagi kaum millenial yang kita ketahui memiliki akses sangat banyak kepada berbagai informasi.
Akhirnya, sesungguhnya pelajaran apa yang kita dapat ketika bercermin pada kejadian dua gangguan asap ini, hargailah serta kelola informasi dengan baik sebagai informasi intelijen untuk membantu kesiagaan kita jauh-jauh hari sebelum timbulnya bencana.


Penulis : Manat Panggabean / Analis, bekerja di Global Atmoshere Watch Bukit Kototabang.
Silahkan Bagikan Berita Ini