Virus Corona Bikin Ekonomi Semakin Sulit

Monday, 16 March 2020 : 04:39
Virus Corona mulai merebak sejak 31 Desember 2019. WHO memberikan peringatan terhadap pemerintah China pada saat itu. Tim dari WHO menemukan beberapa kasus pneumonia yang tidak biasa di Kota Wuhan, Provinsi Hubei. Virus penyebab pneumonia ini masih belum diketahui pada saat itu. Walhasil, Huanan Seafood Wholesale Market, dimana ditemukan beberapa pekerja yang terinfeksi, ditutup pada awal tahun 2020.

Pada 5 Januari 2020, pemerintah China seperti mengalami dejavu, mereka mengumumkan kalau virus SARS kembali menyeruak. SARS pernah menyebar pada 2002 - 2003 dan menewaskan 770 orang di seluruh dunia.

Huh? Singkat cerita, tidak butuh menunggu berminggu-minggu untuk muncul informasi baru, akhirnya mereka menegaskan bahwa ini adalah virus baru. Virus ini mirip dengan SARS, pada awalnya virus ini dikenal dengan nama 2019-nCoV kemudian dengan resmi diubah menjadi SARS-CoV-2. Sedangkan Covid-19 adalah nama wabah atau nama penyakitnya namun kadung terkenal dengan sebutan Virus Corona atau Corona saja.

Sampai saat ini Virus Corona sudah menjangkiti lebih dari 110 ribu orang di seluruh dunia dan sudah menewaskan lebih dari 4.200 orang. Jika dibandingkan dengan Kakaknya (MERS dan SARS), Virus Corona memiliki case-fatality (tingkat kematian) rendah sampai saat ini. Tingkat kematian virus Corona akan bervariasi kalau dibagi-bagi setiap wilayah atau negara. Negara dengan tingkat preventif rendah dan kemampuan perawatan pasien corona rendah akan memiliki tingkat kematian tinggi.

Virus corona memiliki tingkat penyebaran yang sangat tinggi. Shen Zhang., et al, melakukan penelitian terhadap tingkat penyebaran virus corona pada kapal pesiar Diamond Princess, hasilnya R0 Corona adalah 2,28. Sedangkan tingkat penyebaran (R0) flu biasa hanya 1,3. Data ini menunjukkan akan dahsyatnya penyebaran virus corona. Tingkat penyebaran yang tinggi mengakibatkan virus Corona berhasil men-dorman-kan total 110 ribu orang dan mengistirahatkan sementara perekonomian beberapa kota di China, Korea Selatan, Italia, dan Iran.

ADB (Asian Development Bank) memprediksi wabah virus corona ini akan menyebabkan kerugian keuangan dunia antara US$77 miliar sampai US$347 miliar. Global GDP akan terpotong 0,1 - 0,4 persen. Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada menjelaskan, ada banyak ketidakpastian mengenai penyebaran virus corona termasuk dampak ekonominya.

Malah, Bloomberg punya prediksi lain yang mengatakan kalau virus corona akan membuat dunia merugi sebesar US$2,7 triliun. Angka ini setara dengan nilai GDP Inggris Raya. ADB dan Bloomberg boleh punya angka yang berbeda karena pastinya mereka punya cara penghitungan dan prediktor yang berbeda pula. Namun intinya Dunia akan rugi besar karena virus Corona ini.

Sektor penerbangan merupakan sektor yang paling terkena dampak dari virus Corona secara global. Ironisnya, China adalah negara penyumbang turis paling banyak ke seluruh dunia saat ini. Indexmundi bilang kalau China adalah negara dengan nilai nilai pemberangkatan (tourism outbond) terbesar dunia, yaitu sebesar US$143 juta. Kedua, Jerman yaitu US$92,4 juta. Ketiga, Amerika Serikat senilai US$87 juta.

Dikutip dari Financial Times, IATA (The International Air Transport Association) melaporkan wabah virus corona telah mengakibatkan kehilangan pendapatan dunia penerbangan sebesar US$113 miliar. IATA mengungkapkan ada tiga skenario kehilangan pendapatan pada dunia penerbangan.

Pertama, dunia penerbangan kehilangan US$30 miliar saja jika virus corona hanya ada di negara China dan sekitarnya.

Kedua, kehilangan pendapatan sampai US$63 miliar jika virus corona hanya menyebar terbatas pada beberapa negara.

Ketiga, sektor penerbangan akan kehilangan pendapatan sampai US$113 miliar jika virus corona menyebar secara luas di setiap negara.

Tak hanya sektor penerbangan, perusahaan minuman ringan Coca Cola mengumumkan melakukan perlambatan produksi dan ekspor produknya pada acara release laporan keuangan tahunannya. Hal ini terjadi karena Coca Cola sedang melakukan pengetatan sehubungan terganggunya pasokan pemanis buatan dari China. Kebayang panas terik matahari Jakarta, tidak diselingi rasa soda manis dari minuman ringan asal Amrik itu. Aduh....

Pasokan produk smartphone juga diprediksi akan terganggu. Corona membuat perusahaan Apple seolah-olah semakin yakin untuk merelokasi pabrik ke India. Namun beberapa pengamat mengeluarkan sanggahan akan hal ini, alasannya pekerja India belum siap untuk memproduksi produk high-end dan akan ada masalah di rantai pasoknya.

Lagipula, Apple lagi asyik dengan bunyi gemerincing cuan yang dihasilkan dari penjualan smartphone mereka yang diproduksi di China. World Intellectual Property mengeluarkan data bahwa dari satu buah iPhone 7 yang dijual pada 2016 senilai US$649, sekitar 47 persennya dari nilai itu akan masuk ke kantong Apple. Sementara 27 persen adalah biaya material, dan hanya 1 persen masuk ke kantong-kantong buruh di China.

Sampai saat ini, China adalah negara pemasok smartphone terbesar di dunia. Hampir 65 persen smartphone di dunia berasal dari China, kemudian Vietnam, dan India (sumber IDC). Yang baru beli iPhone, camkan itu :P

Dampak Ekonomi Corona Terhadap China

Virus Corona sudah menjangkiti lebih dari 80 ribu orang di China sampai saat ini, dan sekitar 40 ribuan adalah kasus yang masih aktif. Kebijakan pembatasan pergerakan individu di China saat ini pastinya berefek pada lima ratus juta warga di sana. Sampai 6 Maret, 48 kota dari 4 provinsi di-lockdown dengan berbagai level. Lockdown berawal di Kota Wuhan pada 23 Januari, berakibat kota tersebut tidak bisa diakses secara biasa.

Tekanan ekonomi dari virus Corona sudah mulai dirasakan perusahaan-perusahaan di China. Banyak perusahaan yang harus memotong pengeluaran atau bahkan menghentikan sementara aktivitasnya. Buruh atau karyawan sangat merasakan dampak dari pemotongan pengeluaran atau berhentinya aktivitas perusahaan. Pemotongan gaji atau bahkan pemecatan banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan China saat ini.

Zhaopin, website rekrutmen asal China, melakukan survey terhadap 8 ribu perusahaan di pertengahan Februari kemarin. Hampir setengah perusahaan itu melakukan aksi penundaan gaji karyawan dan 44 persen mengurangi gaji karyawan. Bahkan, 19 persen perusahaan akan mengajukan pailit gara-gara virus Corona.
Aksi perusahaan gara-gara Corona di China

Pengangguran di kota besar naik menjadi 5,2 persen dari angka 4,8 persen sejak akhir tahun 2019. Mengutip dari WSJ, Dan Wang, analis dari The Economist Intelligence Unit, menyatakan lima juta orang di China akan kehilangan pekerjaannya walaupun wabah virus corona diprediksi mulai bisa dikendalikan pada akhir Maret ini.

Turunnya ekonomi China pastinya akan berpengaruh kepada ekonomi global. Sampai saat ini, China berkontribusi sebesar 15,12 persen terhadap GDP (Gross Domestic Product) Dunia, kedua setelah Amerika Serikat sebesar 24 persen.

Angka GDP menunjukkan tingkat produktivitas sebuah wilayah/negara, semakin tinggi GDP bisa diartikan negara tersebut memproduksi barang dan jasa lebih tinggi dan warganya memiliki pendapatan lebih tinggi pula oleh karenanya mereka memiliki kemampuan belanja yang tinggi pula. Namun tingginya GDP tidak bisa diartikan secara individual semakin makmur pula. Sebab, hal ini tergantung pada beberapa hal, seperti biaya yang dikeluarkan, pajak yang diterapkan di negara tersebut, dan masih banyak faktor lain.

China optimis kalau prevalensi virus corona akan berhenti pada akhir April. Dikutip dari Financial Times, Zhang Boli, salah seorang anggota komisi kesehatan China memprediksi, seluruh warga China -kecuali warga di provinsi Hubei- mulai bisa membuka maskernya pada akhir April ini. Sejak 6 Maret, penderita virus Corona di luar provinsi Hubei bisa dibilang sedikit.

Dampak Ekonomi Virus Corona di Negara Lain

Ekonomi Korea Selatan pernah terpuruk ketika wabah MERS (Middle East Respiratory Syndrome) memukul negara itu pada tahun 2015. Ada 186 kasus MERS pada saat itu di Korea Selatan. Meski terbilang sedikit, dampaknya sangat mengejutkan. Olga Jonas, peneliti kesehatan Universitas Harvard, bilang Korea Selatan mengalami kerugian sampai US$8,2 miliar. Untuk satu kasus MERS, Korea Selatan mengalami kerugian sampai US$44 juta pada saat itu.

Selain penerbangan, rantai pasok bahan tekstil akan terganggu juga. China sangat mendominasi bahan tekstil dunia, 38% tekstil di dunia berasal dari China. Bahan tekstil ini kemudian dikirim ke Vietnam, Pakistan atau Bangladesh untuk dijadikan pakaian jadi. Tak ada tekstil untuk dijahit. maka tak ada pakaian yang jadi. Ujungya, tak ada uang untuk makan bagi pekerja.

Untuk meminimalisir dampak virus corona terhadap kinerja karyawan, beberapa perusahaan di Amerika Serikat menjalankan langkah darurat. Bank of America sudah membagi karyawan-karyawannya menjadi beberapa tim, jika ada satu orang yang terinfeksi maka semua orang dari tim itu harus dikarantina, lalu tim cadangan akan menggantikan mereka.

Tim Cook, CEO Apple, pada Sabtu tanggal 7 Maret mem-blast email ke karyawannya. Isinya menghimbau karyawan yang tinggal di California dan daerah terdampak lainnya untuk bekerja dari rumah beberapa minggu kedepan.

Namun, menurut polling yang dilakukan Wall Street Journal, 4 dari 10 karyawan -dengan profesi yang memungkinkan bekerja di rumah- masih merasa tidak mungkin untuk bekerja di rumah selama berminggu-minggu.

Lalu Bagaimana Dengan Ekonomi Indonesia?

Sampai artikel ini ditulis sudah ada 27 penderita positif virus Corona di Indonesia, dua dari 27 orang ini adalah warga negara asing. Awalnya dua orang warga Depok teridentifikasi positif Corona kemudian merebak menjadi total 27 orang.

Dikutip dari Majalah The Economist, peneliti bernama Olga Jonas bilang bahwa kota yang akan sangat merasakan imbas kerugian akibat virus corona adalah kota di mana sektor jasa sangat dominan. Jakarta bisa dikatakan denyut nadi bisnis di Indonesia dan merupakan kota perdagangan dan jasa. PDRB (Pendapatan Domestik Regional Bruto) DKI Jakarta, sebesar 17 persennya (sekitar Rp 440 triliun rupiah) disumbang dari sektor perdagangan dan jasa. Apa jadinya jika pekerja di Jakarta tidak beraktivitas berminggu-minggu?

Dikutip dari Bloomberg, virus corona akan menyebabkan ekonomi dunia tumbang sebesar US$2,7 triliun. Ada empat skenario yang dikemukakan Bloomberg dalam memprediksi kerugian dunia gara-gara corona.

Skenario pertama, virus Corona hanya sebatas China dan menyebar ke seluruh Dunia, menurutnya pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tertekan 0,3 persen. Skenario kedua, jika keadaan lebih parah dari skenario pertama maka ekonomi global akan tertekan 2,3%. Skenario ketiga, virus corona juga menghempas keras Korea Selatan, Jepang, Jerman dan Perancis maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan -2,8 persen.

Skenario terakhir, adalah skenario dimana virus Corona dinyatakan sebagai pandemi global. Jika virus corona dinyatakan sebagai pandemi global maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan minus 4,6 persen! BPS (Badan Pusat Statistik) telah merilis kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2019 adalah 5,02 persen saja.

Jika perekonomian begini-begini saja atau tidak ada perubahan signifikan, ditambah dengan adanya hantaman virus corona maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan stagnan. Faisal Basri bilang pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berkisar di angka 0,4 persen saja. Maknanya jual beli rendah karena aktivitas masyarakat yang terhambat atau masyarakat cenderung menunda pembelanjaan, imbasnya produksi menurun, lalu akan banyak perusahaan gulung tikar dan lain-lain.

Faisal Basri, di akhir artikelnya yang berjudul “ Penanganan Coronavirus Tak Bertaji “ menulis kalau kemungkinan penurunan pertumbuhan ekonomi harus diwaspadai. Himpun potensi yang berserakan dan singkirkan benih-benih perpecahan Bangsa. Salah satu benih yang berpotensi memecah belah bangsa pada saat ini adalah RUU Omnibus Law.

Penulis : Aswin Gumilar
Dikutip dari https://opini.id/sosial/read-14306/virus-corona-bikin-ekonomi-semakin-sulit

Silahkan Bagikan Berita Ini