Pandemi Covid 19, Daya Tahan Tubuh serta Kebutuhan Berjemur

Friday, 1 May 2020 : 16:12
Oleh
Wandayantolis, Manat Panggabean dan Dodi Saputra

Memasuki lebih dari dua minggu kita mengikuti anjuran pemerintah agar stay at home, berdiam diri di rumah dan berharap Kesehatan kita akan lebih baik. Anjuran dokter boleh diselingi dengan berjemur (sun bathing) memanfaatkan sinar matahari yang berharap akan meningkatkan daya tahan tubuhmu. Bila daya tahan tubuh optimal maka virus apa pun itu akan mampu dilawan serta dilumpuhkan biasanya demikianlah pemahaman orang awam.
Pertanyaan selanjutnya adalah jam berapa sesungguhnya paling baik berjemur. Beberapa penjelasan para dokter belum ada kesepakatan; ada yang menyebutkan  di pagi hari tanpa menyebut pukul berapa. Ada yang menyebutkan antara pukul 10.00 – 12.00 WIB dan ada pula yang menyebutkan sepanjang sinar matahari ada.
Satu informasi yang diperoleh adalah jenis sinar ultraviolet yang dibutuhkan adalah sebaiknya  UV-B sedangkan UV-A disebutkan kurang baik sebab dapat mengakibatkan kulit keriput. Sedangkan UV-C disebutkan banyak diaplikasikan di instalasi air isi ulang kerena jenis UV yang satu ini disebutkan bisa membunuh bakteri. Jadi intinya sebisanya kulit kita tak terlalu lama kena sinar UV-A apalagi UV-C  dan kesimpulannya : yang paling baik adalah UV-B dan itu pun berjemur untuk berapa lama mesti sesuai anjuran dokter.
Sampai di sini menjadi lebih tampak perlunya pengetahuan kita lebih lanjut tentang sinar ultraviolet ini. Sinar matahari tentu memancarkan beberapa panjang gelombang dan khususnya UV ini yang kita terima adalah Total sinar UV, namun kulit kita rupanya sebaiknya bisa memilah-milahnya, caranya bagaimana? Tak ada cara selain kita memahami pukul berapa sebaiknya kita berjemur di mana UV-B lebih tampak dominan agar kita bisa memanennya. Kalau Intensitas UV-B rendah sebaiknya janganlah diteruskan berjemur.
Pertanyaan yang perlu mendapat kejelasan simpangsiurnya pertanyaan tentang apakah sinar UV-B dapat membunuh Virus Covid 19? Jawabnya tidak secara langsung namun daya tahan tubuh yang meningkatlah yang menyebabkan tubuh dapat melawan setiap pathogen yang masuk ke dalam tubuh kita. Beberapa testimoni dari beberapa orang yang terbebas dari Covid 19 yang tadinya sudah positif dan kemudian setelah itu melakukan isolasi mandiri dan tak alpa disertai setiap pagi berjemur berujung baik dan terakhir disebut menjadi negatif.
Mengutip pakar Biokimia UNIMED Professor Albinus Silalahi menyebutkan bahwa Virus Corona ini bukanlah mahluk hidup melainkan hanya biomolekul  di mana bioaktivitasnya bisa hilang tergantung dengan lingkungannya. Apakah dekonformasi virus ini terjadi apabila suhu lingkungan tinggi atau bila rajin berjemur sesungguhnya belum ada penelitian untuk itu namun adalah tindakan bijak bila testimoni sukses dari beberapa penderita Covid 19 untuk sementara ini perlulah diperhatikan.

Memanen Sinar UV-B 
Budi Satria, Kepala Stasiun Klimatologi Lampung menyebutkan, tubuh kita hanya membutuhkan UV-B untuk kesehatan, namun UV-B nilai nya hanya 5% dari Total UV selebihnya dalah UV-A. Dari data hasil pengukuran terlihat UV-B di tempat kami nilai maksimum adalah antara pukul 09.00 – 12.00 WIB, namun di atas pukul 10.00 WIB UV-A terlalu dominan dan intensitasnya sudah semakin kuat maka supaya tubuh kita tidak terkena UV-A maksimum maka kita dianjurkan berjemur jam 09.00 – 12.00 WIB karena pada selang waktu inilah yang terbaik untuk penyerapan UV-B.
 Disebutkan lebih lanjut bahwa pengamatan di Stasiun Klimatologi Lampung seperti dijelaskan di dalam gambar di sebelah kiri, Total UV mulai maksimum  di atas 20 W/m2 pada pukul 09.00 – 14.00 WIB. Sementara UV-B yang hendak kita sesuaikan saja mirip dengan pola dimaksud namun bagaimana pun sebaiknya kita mulai memilih antara pukul 09.00 – 12.00 WIB, saat kurva UV-B yang sudah mulai menaik secara tegas.
Durasi (lama) berjemur ada perlu diketahui juga. Beberapa penjelasan para ahli mengatakan cukup 30 menit di dalam berjemur dan kalau kelamaan maka dikuatirkan kulit kita akan melepuh; terkadang sering kita saksikan orang  memakai cream khusus di dalam rangka proteksi kulit biar kulit tidak melepuh.
Infografis Sinar Matahari dan Ultraviolet berikut ini mungkin bisa dijadikan sebagai pedoman yang cukup lengkap di dalam memilih berapa lama kita sebaiknya berjemur.
Disebutkan bahwa untuk setiap orang tidak dianjurkan melakukannya dalam durasi yang sama, itu tergantung erat dengan warna kulit pula. 
Orang yang berkulit putih Kaukasia cukuplah berjemur selama kira-kira 5 menit, bergeser ke kuning langsat 10 menit, sawo muda 15 menit, sawo tua 20 menit, coklat 30 menit hingga orang yang berkulit hitam yang tahan lama 60 menit atau satu jam boleh.
Intensitas sinar UV-B pada umumnya sudah masuk kategori sedang ketika menjelang pukul 09.00 dan mencapai puncaknya pada pukul 12.00 WIB dan setelahnya akan kembali semakin melemah. Jadi benarlah pendapat para pakar yang dirujuk sebelumnya itu atau dengan lebih afdolnya menurut penulis untuk jenis dan warna kulit pada orang Indonesia di mana pada umumnya memiliki warna kulit antara kuning langsat hingga sawo tua/matang disarankan silahkan berjemur antara 10 hingga 20 menit dengan memilih waktu antara pukul 09.00 hingga 12.00 WIB biar optimal manfaatnya. Bila masih beranjak di sekitar pukul 09.00 boleh lebih lama namun ketika memasuki jelang pukul 12.00 WIB, berjemurnya sebaiknya cukup dipersingkat saja.
Informasi kondisi Sinar UV dari bulan ke bulan tentu saja berubah karena posisi matahari dengan bumi yang senantiasa berubah. Kita berada di lintang dan bujur berapa ke depan ini menantang untuk mendapatkan informasi yang presisi agar setiap orang merencanakan kapan mereka sebaiknya berjemur dan untuk berapa lama. Indonesia yang berada di ekuator memang boleh dikatakan hampir sepanjang tahun mendapatkan sinar matahari namun kita sependapat  perbedaan dari bulan ke bulan tentu ada dan apabila disandingkan dengan potensi tutupan awan maka informasi ini diharapkan semakin berguna semisal untuk kebutuhan para wisatawan yang merencanakan kegiatan berjemurnya disesuaikan dengan waktu kunjungannya  yang memang terbatas.
Stasiun Global Atmosphere Watch Bukit Kototabang yang ada di Sumatera Barat fokus di dalam pengamatan atmosfer mulai membuat satu produk informasi Sinar Ultraviolet dengan tampilan videografis. Sangat berguna, memang Informasi UV ini masih dalam tahap ujicoba dan sementara ini masih disebarkan di Grup-grup WA internal dan belum merambah hingga publik atau stakeholder yang fokus dalam bidang pariwisata misalnya.
Ketika hal ini penulis konfirmasi kepada Kepala Stasiun, Wandayantolis mengakui bahwa informasi ini memang belum diberikan secara langsung kepada publik dengan alasan agar sebelum menjadi konsumsi masyarakat biarlah dulu beberapa saat berlangsung melalui proses sosialisasi semisal dijadikan materi pembelajaran pada Sekolah Lapang Iklim yang setiap tahun diselenggarakan oleh BMKG agar pemahaman publik akan perlunya informasi ini semakin tinggi, tuturnya.

Penutup
Pandemi Covid 19 ini memaksa kita untuk berusaha keras sanggup menghadapinya dengan cara membangun antibodi yang kuat. Berjemur memang tak ada penelitian menyebutkan dapat langsung membunuh virus namun dengan berjemur sudah lama kita ketahui akan meningkatkan kesehatan sehingga dengan adanya intervensi virus jenis apa pun itu membuat kita akan tetap kuat/survive.
Informasi ini cukup menjadi pedoman di mana kita memilih kapan mau lakukan berjemur di sela-sela stay at home dan sebaiknya berapa lama dapat disesuaikan saja dengan kondisi setiap individu. Sedangkan informasi sinar UV yang sesuai dengan berbagai bidang kehidupan masyarakat saat  sedang terus dikembangkan oleh BMKG dan seterusnya kelak akan digunakan masyarakat di dalam mendukung aktivitasnya.
Jangan pertanyakan lagi manfaat berjemur, beberapa penderita Covid 19 sudah membagi pengalamannya dan itu cukup menjadi pegangan kita dengan bersikukuh memanfaatkan sumber daya alam yang tak habis-habisnya ini. Semua berharap segera sajalah pandemi ini berakhir namun kecenderungan untuk itu belum tampak sehingga upaya kita bagaimana pun mesti maksimal, termasuk dengan berjemur ini. Apakah berjemur akan menyebabkan dekonformasi struktur Virus Corona masih perlu diteliti lebih lanjut.

Ketiga penulis bekerja di Stasiun GAW Bukit Kototabang

Silahkan Bagikan Berita Ini